Archive for August, 2008

Enak karena biasa?

24 August, 2008

Guru biologi di sekolah dulu bilang bahwa lidah merupakan indera pengecap. Di situlah terdapat saraf yang mampu menerjemahkan berbagai rasa. Rasa manis, pahit, kecut, dan sebagainya. Pahit ada di bagian belakang lidah kalau ngga salah. Saraf pengecap rasa manis dimana? Di depan mungkin ya? Ntar buka buku biologi lagi.

Saat ini saya bukan mau melihat peta bagian saraf pengecap. Cuman lagi merenung. Diantara berbagai rasa yang sering dikenal tersebut, ada sebuah rasa yang terkenal tapi belum pernah saya dengar di bagian mana rasa tersebut berada : Rasa “enak”. Saat kita bilang bahwa rasa kue itu “enak”, maka kira-kira lidah bagian mana ya yang mendeteksi rasa “enak” tersebut.

Eit, bukannya mo merambah area filsafat tentang difinisi kata “enak”. Sekedar teringat kejadian beberapa hari lalu. Seorang teman kerja sedang makan siang.

“kuah apa yang paling kamu suka”.

“kuah sup”, jawab sang teman.

“ok, coba ambil kuah sup dan tuangkan ke dalam sebuah cangkir. Lalu minumlah kuah sup itu dengan cangkir”.

Sang teman mengerutkan dahi. Sepertinya lagi melakukan penghayatan. Beberapa detik kemudian dia bilang,

“ah, ya ngga enak”

“lho, kok bisa? Kamu bilang suka sekali sama kuah sup”

“Pasti jadi tidak enak. Bisa dibayangkan”.

“kenapa kamu terbayang rasa tidak enak, padahal kamu suka kuah sup. Toh yang diminum kan kuahnya, bukan cangkirnya”.

“ya ngga tahu, tapi pasti ngga enak. Mungkin karena terlalu banyak kalau pakai cangkir”

“begini, coba minum kuah sup seporsi sendok makan, tapi dengan cangkir. Disruput saja.”

Sang teman lagi-lagi membayangkan. Sejenak kemudian dia bergidik. Seperti menahan jijik.

Hmmmm…..rupanya rasa enak bukan monopoli lidah. Ternyata makanan atau minuman yang dirasa enak oleh seseorang, bisa berbalik jadi tidak enak hanya karena tempat makanan/minuman tersebut. Hanya faktor tempat? Nanti dulu, lebih baik menelusuri kerja otak. Bagaimana otak memberi batasan bahwa “kuah sup enak jika diambil dari piring dengan sendok untuk dimasukkan ke mulut” .

Sebuah pembatasan. Dari mana? Kebiasaan?

terkenal istilah “bisa karena biasa”…rupanya ada juga istilah “enak karena biasa”…..tapi katanya kadang orang ngerasa enak karena mencoba yang ngga biasa…he he he

so?

mending bobok dulu. udah ngantuk.

byee

Sepatu Pelangi

22 August, 2008

Sungguh!

Ini bukan mengada-ada. Tak pakai sepatu di hari-hari awal di Pelangi bukan karena tak mau pakai sepatu. Tapi karena ada sedikit lecet di jempol kaki. Hari awal hijrah ke Surabaya saya melakukan MMI (mlaku-mlaku isuk). Di tengah jalan, perih di jempol kaki kiri. Ditahan-tahan kok makin pedih, akhirnya dari MMI jadi nyambi BII (beca’an isuk isuk).

Bagi mereka yang tahu “track record” saya, mungkin langsung curiga. Kebiasaan saya muncul lagi: berat hati pakai sepatu….hehehehe. ngga lah. Itu kan masa kanak-kanak dulu.

Ya, hingga SD kelas 3, saya pakai sepatu hanya berangkat sekolah saja. Sampai di sekolah, sepatu langsung saya parkir di bawah bangku. Terus? Ya jelas, nyeker. Kenapa? Dulu kalau pakai sepatu rasanya seperti ada sesuatu yang mengikat, nggandoli, atau semacam itulah. Kurang bebas. Pakai sepatu “full-time” di sekolah setelah pihak sekolah (secara sepihak tanpa kompromi tentunya) melarang murid nyeker. Razia dilakukan terus. Yang terkena di sabet pakai rotan. Pernah kena razia? Yah, jangan tanya!

Lho, kan sepatu bisa melindungi kaki dari duri, beling, atau paku di jalanan. Itu mah pikiran orang sekarang. Dulu yang saya pikir cuman biar bisa lari cepat. Apalagi kalo musim layangan. Wah, ngrayah (rebutan) layangan itu mesti modal lari cepat. Kadang juga harus manjat tembok atau pohon. Lha kalau pakai sepatu lak repot.

Tercucuk beling atau paku? Ya pernah. Lha wong mainnya juga di kebon. Tempat segala macam benda buangan. Brangkalan, beling-beling, atau paku teng telecek.

Kalau pekan awal di Pelangi masih sering pakai kaos, ya itu memang kebiasaan. Dari sononya saya suka mode casual (bukan kasuari). Kaos adalah top priority. syukurlah teman-teman di Pelangi punya jadwal “Hari Kaos”. tepatnya hari sabtu. hari minggu dan libur lainnya juga bebas (yang penting pakai pakaian hehehe…pakaian yang “mbener” tentunya)

hari-hari lain sepertinya mesti berpakaian resmi. Terutama kalau mau ketemu pelanggan. Dan memang di banyak kantor aturannya begitu.

Masalah siapa yang bikin aturan itu, saya ngga tahu.  Pingin tahu?   Ngga! He he he

Obyek Wisata?

20 August, 2008

Tadi malam saya diajak menghadiri sebuah pengajian. Di sebuah masjid dalam komplek sekolah. Ruangnya biasa saja. Yang bikin senang adalah cara penyampaian materi pengajian. Bentuknya diskusi dan presentasi dengan slide (powerpoint). Layar proyektornya juga cukup besar. Slidenya bergambar lagi. Nah gini nih, saya jadi ngga ngantuk.

Ingat masa kecil dulu, teman-teman sebaya banyak bercerita tentang novel Lima Sekawan. Saking seringnya dengar obrolan tentang buku itu, saya coba cari tahu. Ternyata bukunya (menurut saya) tebal dan dalamnya tak bergambar. Saya ngga jadi baca. Biarin dibilang ketinggalan trend, daripada harus berlama-lama maksain diri melakukan hal yang membosankan. He he he….

Kembali pada pengajian, materi yang disajikan tentang kemungkaran. Macam jenis kemungkaran dan penyebab timbulnya kemungkaran. Salah satu bahasan menyoroti sifat tidak peduli. Hilang atau minimnya ketidakpedulian sehingga hal buruk “dibiarkan” terjadi terhadap seseorang. Pemateri memberi contoh. Saat Lady Diana meninggal, ada orang sini yang menangis tersedu-sedu. Dia bersedih “mikiri” seorang Lady Di. Seorang keluarga kerajaan negeri jauh. Yang menjalani kehidupan dunianya dengan berbagai fasilitas numero uno. Yang jadi pertanyaan, apakah orang tersebut mau membuka mata hati menyaksikan gelandangan yang tersungkur menanggung lapar di dekat rumahnya? Adakah terbersit rasa peduli?

Sangat mungkin kepedulian ditutup oleh “dalil” yang kurang pas. Misalnya saat melihat kaum papa, pikiran yang melintas adalah : “ Ah, salah mereka ngga rajin kerja”, “Itu mah tanggungan pemerintah, pejabatnya korupsi sih”. Titik. Berhenti sebatas itu.

Ada contoh lain dari pemateri. Ada tetangga seorang ibu bunuh diri bareng anaknya di malam hari raya. Masalahnya? Karena bingung tak bisa beli pakaian baru! Padahal di lingkungan tersebut semestinya ada orang yang mampu membantu. Tapi tidak tahu bahwa ada orang dilingkungannya yang butuh bantuan. Nah ini dia, tak ada koordinasi.

Lemah Koordinasi

Tiba di Madinnah Al Munawwarah, yang dibangun oleh Rasulullah shallahu alaihi wa alihi wa sallam bukan gedung sekretariat untuk mengatur urusan warga yang saat itu baru hijrah. Bukan Kamar Dagang untuk membangun pondasi perekonomian. Bukan pula pangkalan militer sebagai antisipasi kemungkinan serangan musuh.

Yang pertama didirikan adalah m a s j i d !

Apakah masjid dibangun hanya sebagai tempat menjalankan ritual sholat? Sebuah bangunan yang dinilai dari indah arsitekturnya saja? Sengaja didirikan sebagai trade-mark daerah atau kota untuk “obyek wisata”?

Dari sekian fungsi yang bisa dijalankan masjid, fungsi koordinasi sangat berhubungan dengan rasa kepedulian. Bahkan sebuah system koordinasi yang tak disadari. Misalnya? Jika masyarakat rajin ke masjid, paling tidak mereka sering saling bertemu. Saling tahu kabar. Kenapa si fulan tak kelihatan, apakah dia sakit? Apakah dia pergi? Apakah dia tertimpa masalah? Dsb.

Sistem koordinasi yang sepertinya “tak disadari” tersebut ternyata sistemastis dan berjenjang. Coba kita perhatikan kenapa sholat jumat tidak dijalankan ditiap masjid? Mengapa harus ada “kuota” untuk sholat jum’at. Baik kuota jumlah (40 org minimal) maupun kuota radius (jarak) antar masjid untuk jumatan.

Bisa diartikan bahwa salah satu hikmahnya adalah agar terjadi interaksi yang lebih luas. Itu koordinasi “lintas komunitas masjid”. Seminggu sekali.

Excellent!

Lalu kenapa masjid-masjid banyak yang sepi? Apakah karena masyarakatnya yang malas ke masjid, atau masjidnya kehilangan cara untuk “menarik” orang datang?

Tak perlu terlibat debat ayam-telur-ayam atau telur-ayam-telur. Lebih baik masing-masing introspeksi.

Yang gamblang dan jelas, sepinya masjid berarti hilangnya salah satu sistem koordinasi.